pemberontakan PKI III

 jakarta 3 Mei 2022

tulisan ke 5

Pada bulan juni 1945 Mohammad Mansur (di kenal dengan sebutan Ce Mamat dalam komunitas komunisnya, Ce Mamat ) mengadakan pertemuan dengan anggota kelompok komunisnya secara rahasia untuk membahas tentang pemutusan kerjasama dengan jepang dan pembahasan proklamasi kemerdekaan Indonesia, sehingga pertemuan itu di kenal dengan sebutan Rangkasbitung.

Pada pertemuan ini salah satu mentor dari mohammad Mansur, hadir dalam pertemuan tersebut dan menyamarkar dirinya dengan nama Ilyas Husein tapi sebenarnya dia adalah Tan Malaka. Di tengah perdebatan yang sangat sengit antara kelompok komunis itu maka Tan Malaka memberikan pendapatnya untuk tentang perlunya kerja sama supaya komunis tidak terpecah belah dan menurutnya juga dalam perjuangan tersebut perlu didirikan satu organisasi sendiri dan pemimpinnya sendiri.

Pada pertemuan itu akhirnya disepakati tentang pembentukan organisasi yang di beri nama Dewan Rakyat yang dipimpin langsung oleh Ilyas Husein atau Tan Malaka dan 6 orang lainnya termasuk Ce Mamat sebagai perwakilan dari Banten dalam pertemuan konferensi yang  dilakukan di Jakarta untuk membahas tentang hal-hal taktis yang berkaitan dengan kekuasaan komunis di Banten.

Suasana revolusi yang sangat ganas, mendorong tokoh-tokoh islam dan ulama untuk berperan dalam menumpaskan pemberontakan, maka presiden Ir. Soekarno menyangkat K.H. Achmad Chatib sebagai Residen Banten pada tanggal 19 September 1945. Kondisi Banten memang sedang tidak baik-baik saja karena komunis tetap melakukan pembunuhan terhadap penduduk yang menentang apa saja yang menjadi keputusannya.

Melihat gerakan Ce Mamat dan seluruh anggota Dewan Rakyatnya yang sudah hampir menguasai Banten, Ce  Mamat yakin akan bisa mendirikan negara Indonesia dan Banten sebagai negara yang berpaham komunis. Di sisi lain semua media yang ada di Jakarta memberitakan tentang pemberontakan yang dilakukan oleh Ce Mamat bersama Dewan Rakyatnya sehingga Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta datang langsung ke sarang pertemuan komunis di Rengasdengklok.

Pada kesempatan itu Ir. Soekarno menyampaikan pidatonya agar semua masyarakat tetap teguh pada penegakan persatuan nasional yang dijaga dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bung Hatta pun yang dikenal dengan orang yang sangat pendiam pada kesempatan ini beliau sampaikan bahwa Dewan Rakyat tidak berguna dan tidak ada manfaatnya bagi masyarakat sebab Dewan Rakyat hanya sekedar Organisasi yang membuat onar dan berprilaku yang tidak manusiawi jadi organisasi itu harus di bubarkan.

Ce Mamat yang mengetahui Ir. Soekarno dan Muhammad hatta datang ke Banten lantas dia langsung membuat taktik yang meneror sang presiden dan wakil presiden dengan cara membunuh Bupati Lebak R.T.Hardiwinangun.

Mula-mula Ce Mamat mengutus anggota Dewan Rakyat untuk menemui Bupati Lebak yang berada di rumahnya, para anggota yang datang menemui sang Bupati menyampaikan pesan yang berasal dari presiden untuk dirinya. Saat mengetahui bahwa undangan dari presiden tersebut Bupati R.T.Hardiwinangun langsung ikut dengan ajakan tersebut. Nasib naas yang menimpa dirinya karena percaya pada utusan tersebut, sang bupati diikat ke jembatan sungai Cisiih, sang Bupati di tembak dan disembelih setelahnya jasad sang Bupati di buang di sungai. Setelah dua hari mayat tersebut di temukan oleh penduduk setempat dalam kondisi yang mengenaskan.

Pembunuhan Hardiwinangun ini memberikan dampak yang sangat negative untuk Dewan Rakyat dan komunis di Banten karena dengan pembunuhan tersebut banyak kaum ulama cemas dengan kondisi yang dilakukan oleh antek komunis tersebut.

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemberontakan PKI II

Mahasiswa agen control & Change