Mahasiswa agen control & Change
Jakarta 16 april 2022
Tulisan: 1
Dalam beberapa dekade terakhir ini, saya sangat sering melihat teman-teman mahasiswa yang turun aksi di jalan-jalan dengan membawa spanduk dengan beragam tuntutan.
Aksi teman-teman mahasiswa ini juga bukan sekedar di jalan-jalan saja tapi di media sosial seperti WA,FB,IG,YOUTUBE dll yang sangat masif di lakukan, mulai dengan membuat cuitan-cuitan sindiran di status dan sampai pada penyebaran pamflet yang berisi foto dan tulisan tuntutan.
Saya pun menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah satu kegiatan yang sudah di perbolehlan oleh aturan negara (UU) , jadi tidak ada yang berhak melarang mereka untuk menyampaikan pendapat dan berekspresi di jalan-jalan/dimuka umum.
Sebagai pelajar yang menyandang gelar mahasiswa mereka memiliki dua fungsi yang selalu melekat di dalam diri mereka, sebelum saya bahas dua fungsi tersebut, alangkah baiknya mendefinisikan apa itu kata mahasiswa.
Secara etimologi Mahasiswa dapat dibagi kepada dua kosa kata, yaitu maha yang diartikan besar/tinggi dan siswa yang diartikan sebagai pelajar/orang yang derajatnya lebih tinggi dari pelajar lain.
Sedangkan Secara terminologi mahasiswa adalah seseorang yang terdaftar di perguruan tinggi baik swasta maupun negeri yang mengikuti semester berjalan dan tau akan hak dan kewajibannya.
Dari pengertian di atas jelas bahwa apabila sudah menjadi mahasiswa Maka sudah barang tentu akan bisa memilih dan memilah mana yang tepat dan pas di lakukan olehnya, baik di lingkungan Gerakan, akademik maupun di lingkungan sosial kemasyarakatannya.
Maka berangkat dari definiai di ataspula lah lahirlah fungsi mereka sebagai:
a. Agen of change (penyalur/pelopor perubahan)
b. Social of control (yang mengontrol kebijakan pemerintahan terhadap masyarakat).
Jadi apa yang dilakukan oleh teman-teman mahasiswa akhir-akhir ini adalah upaya pengontrolan kebijakan yang di nilai keliru oleh mereka.
Untuk mengetahui mahasiswa yang turun kejalan itu adalah orang-orang yang memang pro terhadap kepentingan masyarakat dan kontra terhadap kebijakan pemerintah yang keliru dan tidak mementingkan masyarakat dan lingkungan, maka perlu di kenali ciri-cirinya :
1. Rasional (berbicara yang masuk akal)
2. Analisis (selalu menganalisa setiap masalah yang ada)
3. Kritis (tidak menerima secara langsung pernyataan dalam bentuk apapun)
4. Universal (melihat setiap masalah dengan cara yang umum)
5. Sistematis (mengerjakan sesuatu tidak amburadul).
Lima poin di atas adalah ciri-ciri daripada mahasiswa yang tergolong dari agen of control dan change. Apabila tidak masuk di dalam 5 kategori ini maka masih tetap dinyatakan sebagai mahasiswa karena Mahasiswa memiliki tipe masing-masing diantaranya adalah :
a. Idealis (yang tetap pada pendirian)
b. Pragmatis (dikatakan benar ketika bermanfaat untuk diri sendiri dan kelompok)
c. Hedonis (yang memikirkan kenikmatan)
d. Apatis (tidak mau tau)
e. Salon (yang diperhatikan adalah gaya)
f. Anak mami (mahasiswa cengeng).
Untuk itu, Mulai sekarang pertanyakan kepada diri sendiri, apabila sedang menyandang dengan sebutan mahasiswa, mahasiswa yang tipe apa diri mu sekarang, serta ciri-ciri kemampuan seperti apa yang dirimu miliki.
Setelah mengetahui kemampuan kita dimana maka langkah yang perlu kita lakukan adalah mengintrospeksi diri untuk mewujudkan mahasiswa yang memiliki peran sebagai agen of change dan agen of control tersebut.
Agen of change dan agen of control tersebut bukan hanya Dilabeli dengan mahasiswa yang suka turun berjuang di jalan-jalan melainkan semua mahasiswa yang memiliki peran penting untuk memberikan edukasi atau pemahan tentang pentingnya hak dan kewajiban semua warga negara sehingga tercipta kesejahteraan dan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Jadi ada banyak masalah yang muncul di bangsa dan negara kita mulai dari pemerintah, masyarakat dan bahkan pendidikan.
Masalah yang terjadi di pemerintahan adalah korupsi yang semakin merajalela, pembunuhan yang tidak berprikemanusiaan, dan persekongkolan yang terus meningkat.
Sedangkan masalah di masyarakat yang sering muncul atau di dibahas adalah
1. Pergaulan
Banyak generasi penerus perjuangan bangsa hari ini melakukan tindakan yang sangat tidak sesuai dengan apa yang diharapkan misalnya banyak yang mabuk-mabukan, perjudian, obat-obatan (Satu-satunya atau narkoba), tawuran dan bahkan sampai membunuh.
Tidak sedikit juga generasi yang masih memiliki kesadaran untuk merawat dan membina kehidupan masyarakat agar lebih baik. Jadi mahasiswa boleh masuk dalam ruang-ruang masalah ini untuk memberikan solusi bagi yang belum tersadarkan akan pentingnya merawat diri sendiri dan merawat kepentingan bersama (Masyarakat).
2. Pendidikan
Tidak semua anak-anak yang lahir di Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak, contohnya anak-anak yang terlantar yang masih banyak terlihat di kiri kanan jalan untuk mencari uang supaya bisa melanjutkan kehidupnya dan anak-anak miskin yang orang tuanya tidak memiliki biaya untuk anaknya sekolah.
Pada hal amanat UU No 20 tahun 2003 tenteng sistem pendidikan nasional pasal 1 ayat 18 menyatakan bahwa Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah.
Permen Dikbud No 19 tahun 2016 tentang program Indonesia Pintar
Pasal 2 menyatakan bahwa PIP bertujuan untuk
a. meningkatkan akses bagi anak usia 6 (enam) sampai dengan 21 (dua puluh satu) tahun untuk mendapatkan layanan pendidikan sampai tamat satuan pendidikan menengah dalam rangka mendukung pelaksanaan pendidikan menengah universal/rintisan wajib belajar 12 (dua belas) tahun;
Jadi jelas bahwa pemerintah seharusnya membuat desain agar terwujud cita-cita UU agar anak-anak dapat mendaptkan haknya dalam hal belajar, serta berikan pengertian kepada orang tua untuk tetap optimis bahwa biaya sekolah akan di tanggung oleh pemerintah.
Mahasiswa juga harus jeli membaca kondisi dan dinamika seperti ini, ketika adek-adek yang tidak mendapat pendidikan formal disekolah maka peran mahasiswalah untuk menuntun adek-adek dengan pendidikan informalnya.
Pendidikan informal ini bukan saja hanya di lakukan terhadap adek-adek yang putus sekolah tapi juga boleh dalam arti luas (masyarakat).
3. Agama
Sebagai negara yang berdasarkan nilai-nilai ketuhanan seperti yang termuat dalam dasar negara yaitu pancasila sila pertama yang berbunyi ketuhanan yang maha Esa, maka wajar apabila Indonesia menetapkan dan mengakui keberadaan agama-agama yang ada seperti agama Islam, Kristen, Protestan, Hindu, Budha dan Konghucu.
Dari beberapa agama yang di akui oleh negara tersebut maka diharapkan kepada semuanya agar bisa menjaga nilai kebhinnekaan yang dan merawat kebersamaan. Perbedaan kepercayaan ini bukan dijadikan satu alasan untuk bercerai berai tapi dengan perbedaan ini kita sama-sama harus membangun bangsa dan negara agar terwujud keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran.
Tugas mahasiswa selaku agen of control adalah merawat kebhinnekaan dengan cara silaturahmi antar organisasi kemahasiswaan, terlepas apa dan bagaimanapun kepercayaannya, yang jelas kepentingan dan kemaslahatan kehidupan berbangsa dan negara harus di perhitungkan.
Apabila ada masalah-masalah agama yang terjadi dilingkungan masyarakat terkait perbedaan pendapat tentang pandangan agama maka tugas mahasiswalah untuk mencerahkan, mengarahkan masyarakat agar tetap mengedepankan nilai-nilai kebhinnekaan tersebut.
4. Masalah pribadi.
Beberapa waktu belakang ini penulis sering Menyoroti tentang internal mahasiswa. Jadi menurut penulis ada beberapa mahasiswa yang sekarang tidak berkeinginan untuk kuliah tapi tetap mendaftar kuliah lantaran ingin di anggap sebagai mahasiswa di kalangan masyarakat. Hal inilah yang menjadi malasalah bagi mahasiswa yang sadar akan pentingnya peran mahasiswa dalam melaksanakan tugasnya sebagai agen of control dan agen of change.
Jadi apabila mahasiswa mampu menyadarkan teman-teman mahasiswa yang lain supaya ikut aktif dalam tugas yang diembannya maka penulis yakin bahwa mahasiswa akan mampu membawa bangsa dan negara akan lebih baik dan berkembang.

Luar biasa ,mantap skli ,jadi ingat dulu saya mahasiswa kadang aktf di organisasi kadang mahasiswa kupu2 setelah siap pulang, mungkin berhubung jarak dari rumah, dan mengejar agar tidak MLM smpai ke rumah..
BalasHapusHehehe,jadii ingat waktu jaman mahasiswa dulu. aktif belajar di kampus bersma teman-teman. cuma sekali demo. demo masak. heheheh
BalasHapusSiip guru dan aktifis
BalasHapusDulu sy termasuk mahasiswa yg mana yaaa
BalasHapus